Pagi yang dingin tak terasa kita cumbui bersama hanya karena ingin menunggu datangnya bis 80 coret atau 65 putih/kuning mengantarkan kita ke universitas Al-Azhar tercinta. Disaat penantian itu menghitung waktu tak terasa sudah 2 jam berlalu kita terus menunggu dan menunggu wajah-wajah bis di pinggiran jalan berdebu.
Aku penat berdiam disini kaupun lelah berdiri sejak tadi menunggu bis yang akan kita tumpangi. Tapi, apa yang terjadibis 80 coret/65 yang kita nanti belum nampak di depan garasi. Ach, sungguh bosan sekali penantian seperti ini jika setiap hari harus begini kapan kita bisa mencari dan mendapati ilmu yang dititipkan kekasih-kekasih Ilahi di Al-Azhar univerity.
Waktupun terus berlari menyeret hati untuk bersaksi; "satu penantian yang menjengkelkan hati, tidak pernah berujung pasti."
Lalu, sepintas kudengar kau menghela nafas tinggi-tinggi mendamaikan diri, mencoba menenangkan hati dengan kalimat tasbih memuji sang Ilahi, agar diberi kekuatan dan kesabaran atas penantian ini. Takbirpun bersolek di menara yang tinggi selaras dengan taubat hati kembali beristigfar atas ketidaksabaran ini...