Saturday, November 11, 2006
Sejarah 18
Tuhan…...
Aku seperti terbangun
Dalam mimpi yang terlalu panjang,
Di kala aku melihat
Seuntai makna cinta
Lewat desah nafasnya.

Tuhan……
18 adalah moment yang berarti
Dalam mengakit hari
Mencipta sederet puisi hati,
Karena telah aku tancapkan
Bunga-bunga cinta dalam ulu hatinya,
Dan diapun menyiramnya
Dengan wangian kembang sukma
Ke sepanjang taman jiwa.

Oh Tuhan……
Sungguh aku merasa bahagia
Di atas kebahagiaan yang ada,
Karna apa yang aku impikan
Kini telah menjadi impian kasih
Buat sang hati yang selalu menanti.
posted by Rintihan Sunyi @ Permalink ¤3:50:00 PM   0 comments
Arti Sebuah Nama
F : ajar telah menyingsing di ufuk senja
Menyinari setiap kegelapan dunia

A : lam kini menjadi terang menderang laksana
Terangnya cahaya rembulan

T : api cahaya sang bulan
Kini telah

H : ilang lantaran datangnya
Siang

U : ntuk-MU….. Tuhan !

L : apisilah seluruh lentera
Kehidupanku

W : alau hanya dengan setetes embun
Pagi-MU,

A : agar perjalanan hidupku nanti,
Selalu berarti di sepanjang hari, Dan

F : atamurgana-MU ,
Semoga ‘kan tetap menjadi tempat peristirahatan yang hakiki...

I : nilah sebait doaku,
Yang terselubung di setiap bait namaku.
posted by Rintihan Sunyi @ Permalink ¤3:38:00 PM   0 comments
Sepucuk Kerinduan
Rindu …
Semenjak kepergian mu
Diriku merana di sepanjang waktu
Wajahmu
Selalu hadir di setiap jejak langkah ku
Menghantui jiwaku

Rindu …
Entah siapa yang ‘kan bisa mengobati kerinduan ku
Sementara bayang-bayang mu
Srelalu membalut hatiku
Datang di setiap buaian mimpi ku
Hadir di setiap angan dan hayal ku

Rindu …
"I miss U"
Itulah sepucuk kerinduan ku
Pada dirimu
Yang selalu ku rindu.
posted by Rintihan Sunyi @ Permalink ¤3:30:00 PM   0 comments
Seberkas Pelangi Yang Aku Nanti
Malam ini adalah malam ketiga aku berada dirumah baru,
entah apa yang ku rasakan dari sini,
tiada lain hanyalah kesunyian yang terus menemani
sepanjang malam berteman sepi.
sepi aku sendiri...
Padahal aku berharap dari rumah yang kudiami ini,
akan memberiku pelita pada jalan yang terang
dan menghapus jalan yang suram...
Ternyata tidak mudah berharap seperti itu,
karena ruang dan waktu yang menemaniku
masih saja seperti ombak dan buih.
Kita lihat ombak yang dengan dahsyatnya
menghantam perahu yang berlayar di atasnya,
jika perahu itu belum mampu mengejar arus,
maka mustahil perahu itu sampai pada tujuan.
Perahu itu akan terombang-ambing di dasar lautan,
dia akan terombang-ambing kesana kemari
karena dirinya terbawa kemana arus itu mengalir.
Begitupun dengan diriku,
selamanya akan tetap berteman dengan kesunyian malam,
gelisah…sepi…dan sedih…akan terus menemani.
Jika seberkas pelangi yang aku nanti,
belum hadir menyinari hati.
Karena padanya kegelisahanku terpatri,
kesepianku tersinggahi,
dan kesedihanku terobati.

Ya Tuhan…
Entah kapan lagi aku harus begini
terus berteman dengan rintihan sunyi,
sedang kesunyian itu bagai lidah sembilu,
hadir disaat aku hendak bermunajat kepada sang Ilahi.
Kenapa diri ini...
Seperti perahu yang terombang-ambing di atas samudera,
lalu tenggelam tanpa buih yang tersisa ?
Sedang kulihat nun jauh disana
masih ada kapal yang dengan gigihnya,
berlayar diatas gemuruh ombak yang menerka.

Oh Tuhan…
Hadirlah dalam kegelisahanku
Temanilah dalam kesepianku
Kembalilah dalam kesedihanku.
posted by Rintihan Sunyi @ Permalink ¤3:09:00 PM   0 comments

BiodatA
Kenali dirimu. Maka kamu akan tahu siapa aku. Cukup sederhana!!!
Kontemplas!
GudanG BukU
CatataN PinggiR
Sekarang, detik ini. Kita urai arti perpisahan. Besok, lusa nanti. Kita kenang makna kebersamaan.
BeluM AdA JuduL

Entahlah, sejauh mana aku akan memberi judul tulisan ini.

BeluM AdA MaknA

Masih mencari sebuah hakekat. Entah itu apa?

BeluM AdA Is!

Lagi dalam tahap penyempurnaan.

Koleras!
NilaI GandA


IramA MusiK