Tuhan…... Aku seperti terbangun Dalam mimpi yang terlalu panjang, Di kala aku melihat Seuntai makna cinta Lewat desah nafasnya.
Tuhan…… 18 adalah moment yang berarti Dalam mengakit hari Mencipta sederet puisi hati, Karena telah aku tancapkan Bunga-bunga cinta dalam ulu hatinya, Dan diapun menyiramnya Dengan wangian kembang sukma Ke sepanjang taman jiwa.
Oh Tuhan…… Sungguh aku merasa bahagia Di atas kebahagiaan yang ada, Karna apa yang aku impikan Kini telah menjadi impian kasih Buat sang hati yang selalu menanti.
Rindu … Semenjak kepergian mu Diriku merana di sepanjang waktu Wajahmu Selalu hadir di setiap jejak langkah ku Menghantui jiwaku
Rindu … Entah siapa yang ‘kan bisa mengobati kerinduan ku Sementara bayang-bayang mu Srelalu membalut hatiku Datang di setiap buaian mimpi ku Hadir di setiap angan dan hayal ku
Rindu … "I miss U" Itulah sepucuk kerinduan ku Pada dirimu Yang selalu ku rindu.
Malam ini adalah malam ketiga aku berada dirumah baru, entah apa yang ku rasakan dari sini, tiada lain hanyalah kesunyian yang terus menemani sepanjang malam berteman sepi. sepi aku sendiri... Padahal aku berharap dari rumah yang kudiami ini, akan memberiku pelita pada jalan yang terang dan menghapus jalan yang suram... Ternyata tidak mudah berharap seperti itu, karena ruang dan waktu yang menemaniku masih saja seperti ombak dan buih. Kita lihat ombak yang dengan dahsyatnya menghantam perahu yang berlayar di atasnya, jika perahu itu belum mampu mengejar arus, maka mustahil perahu itu sampai pada tujuan. Perahu itu akan terombang-ambing di dasar lautan, dia akan terombang-ambing kesana kemari karena dirinya terbawa kemana arus itu mengalir. Begitupun dengan diriku, selamanya akan tetap berteman dengan kesunyian malam, gelisah…sepi…dan sedih…akan terus menemani. Jika seberkas pelangi yang aku nanti, belum hadir menyinari hati. Karena padanya kegelisahanku terpatri, kesepianku tersinggahi, dan kesedihanku terobati.
Ya Tuhan… Entah kapan lagi aku harus begini terus berteman dengan rintihan sunyi, sedang kesunyian itu bagai lidah sembilu, hadir disaat aku hendak bermunajat kepada sang Ilahi. Kenapa diri ini... Seperti perahu yang terombang-ambing di atas samudera, lalu tenggelam tanpa buih yang tersisa ? Sedang kulihat nun jauh disana masih ada kapal yang dengan gigihnya, berlayar diatas gemuruh ombak yang menerka.
Oh Tuhan… Hadirlah dalam kegelisahanku Temanilah dalam kesepianku Kembalilah dalam kesedihanku.